Tab / Navbar Menu

Tampilkan postingan dengan label Tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2013

Sumba Berpotensi Sebagai Pulau Berdaya Energi Terbarukan

Di kampung Waitabar, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, kampung asli tradisi megalitik yang masih takluk sepenuhnya dalam aturan adat. Sore hari beberapa warga terlihat beraktivitas di depan rumah mereka.

Pulau Sumba memiliki kekayaan sumber daya energi terbarukan yang signifikan. Sumber daya air, matahari, angin, dan biogas dari ternak memiliki potensi tinggi dan belum tereksploitasi. Hasil berbagai riset kajian mengungkapkan itu.

Sumba yang terletak di timur kepulauan Nusantara inilah yang jadi implementasi pulau ikonis pertama. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana, di Jakarta (13/2), menyatakan, proyek pulau ikonis (iconic island) digagas dengan maksud memperlihatkan bahwa kebutuhan energi pulau kecil maupun sedang dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi terbarukan.

Inisiatif Sumba sebagai Pulau Ikonis sudah dimulai sejak 2009 oleh Hivos (Lembaga Kemanusiaan untuk Kerjasama Pembangunan) –suatu organisasi swadaya masyarakat Belanda, bersama pihak Bappenas dan Kementerian ESDM.

Menurut Dadan Kusdiana, Direktur Bionergi di Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, keterkaitan antara penyediaan energi dengan penurunan tingkat kemiskinan mungkin tidak langsung terlihat.

Namun Dadan yang ditemui saat acara rapat pleno Satuan Tugas Pulau Ikonis Sumba di Jakarta, Rabu (13/2) itu mengingatkan, pengembangan Pulau Ikonis Sumba akan menunjukkan bahwa akses energi merupakan pendorong dan penunjang bagi pembangunan.

“Energi juga pada akhirnya berarti meningkatkan kualitas hidup penduduk, dan menciptakan kondisi untuk membangun ekonomi setempat.”

Skenario seratus persen

Melalui fase demi fase persiapan, kerangka Cetak Biru dan Peta Jalan 2012-2025 disusun. Bulan Maret 2012, terbentuk Tim Satuan Tugas lintas sektoral yang bekerja bersama. Skenario jangka panjang itu adalah berambisi untuk menjadikan pulau ini 100 persen tidak lagi bergantung pada energi bahan bakar fosil di akhir program, alias 2025 mendatang.

“Kami yakin bahwa sebelum tahun 2025, energi terbarukan dapat menerangi rumah-rumah di Sumba, bangunan masyarakat, mendinginkan vaksin di kulkas dalam klinik, meningkatkan produksi pertanian dan membuka peluang berbagai bisnis kecil,” ujar Eco Matser, Koordinator Perubahan Iklim, Energi, dan Pembangunan Hivos.

“Kerja sama antar semua lembaga terkait, krusial dalam mencapai tujuan ambisius ini. Semua pemangku kepentingan akan berperan spesifik, tapi disatukan oleh visi dan target bersama. Pemangku kepentingan utama adalah masyarakat Sumba sendiri, yang akan menerima manfaat utama,” jelas Dadan Kusdiana.

Pulau Sumba merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan salah satu dari empat pulau terbesar di provinsi tersebut. Populasi Sumba hanya 656.259 jiwa dengan kepadatan 58,62 penduduk per kilometer persegi.

Berdasar laporan studi Hivos, kegiatan ekonomi terbatas di Pulau Sumba. Tahun 2008 pendapatan per kapita rata-rata kabupaten di sini sekitar Rp1,9 juta, jauh di bawah rata-rata pendapatan per kapita nasional pada tahun sama adalah Rp8,01 juta.

Di samping itu ketidaktersediaan energi di rumah juga secara tidak langsung menjadi penghalang bagi sebagian besar anak-anak Sumba untuk berprestasi. “Pulau Ikonis Sumba harus menjadi model di mana semua pemangku kepentingan terlibat mendukung, dan dapat dicontoh, direplikasi di wilayah terpencil lain,” tambah Eco.


READ MORE - Sumba Berpotensi Sebagai Pulau Berdaya Energi Terbarukan

Jumat, 08 Februari 2013

Mengenal Budaya Indonesia dari Lembaran Rupiah

KEARIFAN lokal Indonesia diabadikan dalam mata uang agar menjadi ciri khas dan pengingat bagi warga Indonesia sebagai penggunanya. Yuk, kenali lebih dalam apa saja tempat wisata, rumah adat, maupun kerajinan khas negeri ini yang ada dalam mata uang kita.

Simak ulasannya berikut ini:



1. Pulau Maitara, Maluku Utara 

Ada satu pulau indah di Indonesia yang pasti sudah pernah Anda lihat setiap hari. Pulau tersebut adalah Pulau Maitara, yang ada di mata uang Rp1.000. 

Pulau Maitara adalah sebuah pulau yang berada di Maluku Utara Indonesia. Pulau ini terletak diantara Pulau Tidore dan Ternate. Meski kecil, pulau ini ternyata dikelilingi pantai berpasir putih yang indah di sekitarnya. Di pulau inipun terdapat keindahan bawah laut yang luar biasa, mulai terumbu karang yang cantik hingga ikan-ikan tropis berwarna-warni.


2. Rumah Limas, Palembang 

Rumah Limas adalah rumah adat khas Kota Mpek-Mpek, Palembang. Rumah ini ditandai atapnya yang berbentuk limas dan lantai yang bertingkat-tingkat. 

Biasanya rumah yang ada di uang pecahan Rp10 ribu ini luasnya mencapai 200 sampai 1.000 meter persegi. Rumah ini didirikan di atas tiang-tiang kayu ulin dan dindingnya dari kayu tembusu. Di pelosok Kota Palembang masih terdapat banyak Rumah Limas, yang umumnya sudah berumur tua.


3. Pandai Sikek, Sumatra Barat 

Selain tempat wisata dan rumah adat, dalam pecahan mata uang Rp5.000 juga ada kerajinan tenun asal Sumatra Barat, Pandai Sikek. Pandai Sikek sendiri sebenarnya adalah sebuah nagari di Batusangkar, Sumatra Barat. Nagari ini dikenal sebagai tempat pengrajin tenun cantik khas Sumatra Barat. 

Motif-motif kain tenun di nagari ini selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai pakaian pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai tando dan dipajang pada waktu batagak (mendirikan) rumah. Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai motif asli pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan Pandai Sikek pada zaman lampau.


4. Tari Dayak, Kalimantan 

Seni tari Dayak yang muncul dalam pecahan uang Rp2.000 adalah kesenian tari tradisional masyarakat dayak yang berhubungan dengan latar belakang budaya yang masih terpelihara di antara sub-suku bangsa Dayak secara umum. Dayak sendiri merupakan sebutan bagi penduduk asli Pulau Kalimantan. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing. 

Tari dayak tidak hanya memiliki satu jenis, melainkan sangat banyak. Gerak tari dayak sendiri dibagi menjadi banyak kelompok, sesuai dengan daerah masing-masing.


sumber



READ MORE - Mengenal Budaya Indonesia dari Lembaran Rupiah

Sabtu, 12 Januari 2013

Mengenal Kain Tapis, Kain Tradisional Asli Lampung

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; "Cucuk"). Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung.


Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin.

Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.



Sejarah Kain Tapis Lampung

Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.


Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini.
Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan jaman bahari sudah mulai berkembang sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 1700.


Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal.

Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup. Diketahui suku Lampung yang umum memproduksi dan mengembangkan tenun Tapis adalah suku Lampung yang beradat Pepadun.



Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung

Bahan Dasar Tapis Lampung : Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam. Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.


Bahan-bahan baku itu antara lain :

  • Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang.
  • Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera.
  • Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang.
  • Akar serai wangi untuk pengawet benang.
  • Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur.
  • Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah.
  • Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam.
  • Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat.
  • Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru.
  • Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.



Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis : Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut :

  1. Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun.
  2. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian Alat-alat :
  • Terikan (alat menggulung benang)
  • Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh)
  • Belida (alat untuk merapatkan benang)
  • Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang)
  • Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan)
  • Guyun (alat untuk mengatur benang)
  • Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun)
  • Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang)
  • Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan)
  • Amben (alat penahan punggung penenun)
  • Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.

 

Jenis Tapis Lampung Menurut Asal pemakainya
Beberapa jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir :
* Tapis Inuh
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Semaka
* Tapis Kuning
* Tapis Cukkil
* Tapis Jinggu


Tapis lampung dari Pubian Telu Suku :
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Laut Linau
* Tapis Raja Medal
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Handak
* Tapis Tuho
* Tapis Sasap
* Tapis Lawok Silung
* Tapis Lawok Handak


Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan :
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Halom/Gabo
* Tapis Kaca
* Tapis Kuning
* Tapis Lawok Halom
* Tapis Tuha
* Tapis Raja Medal
* Tapis Lawok Silung


Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak:
* Tapis Dewosano
* Tapis Limar Sekebar
* Tapis Ratu Tulang Bawang
* Tapis Bintang Perak
* Tapis Limar Tunggal
* Tapis Sasab
* Tapis Kilap Turki
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Kaco Mato di Lem
* Tapis Kibang
* Tapis Cukkil
* Tapis Cucuk Sutero


Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego :
* Tapis Rajo Tunggal
* Tapis Lawet Andak
* Tapis Lawet Silung
* Tapis Lawet Linau
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Raja Medal
* Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Semako
* Tapis Tuho
* Tapis Cucuk Agheng
* Tapis Gajah Mekhem
* Tapis Sasap
* Tapis Kuning
* Tapis Kaco
* Tapis Serdadu Baris


sumber





READ MORE - Mengenal Kain Tapis, Kain Tradisional Asli Lampung

Senin, 08 Oktober 2012

5 Tradisi Bangsa Indonesia yang Mulai Luntur


Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) udah mulai berkurang. Jadi, kami coba angkat deh, supaya Anda mau mengembalikan budaya kita, menjadi budaya sesungguhnya !

1. Cium Tangan Pada Orang Tua

Biasanya sih dibilang “salim“, bila di semasa saya hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal ini penting loh, selain menanamkan rasa cinta kita sama ortu, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita sama mereka, sudahkah kalian mencium tangan orang tua hari ini?

2. Penggunaan tangan kanan

Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan. (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir).

3. Senyum dan Sapa

Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.

4. Musyawarah

Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, ga ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.

5. Gotong Royong

“Itu bukan urusan aku!“, “emang aku pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Hayoolah kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaann seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, ga ada tuh perasaan curiga, dan dulu persatuan kita kuat.


sumber
sumber
READ MORE - 5 Tradisi Bangsa Indonesia yang Mulai Luntur

Kamis, 04 Oktober 2012

Warisan Budaya Indonesia yang diakui UNESCO

1.Kota Tua Banten



2.Situs Bawomataluo



3.Benteng Belgica



4.Pura Besakih




5.Candi Borobudur

6.Pemandangan Provinsi Bali

7.Gua Gajah

8.Masjid Agung Demak

9.Taman Sejarah Gunongan

10.Muaro Jambi

11.Muara Takus

12.Rumah Adat Ngada dan daerah Megalitik

13.Daerah Penataran Hindu

14.Candi Perambanan

15.Pulau Penyengat

16.Candi Ratu BOKO

17.Situs Sangiran

18.Candi Sukuh

19.Tanah Toraja

20.Trowulan kota bekas ibukota kerajaan majapahit

21.Waruga Burial

22.Keraton Yogyakarta



READ MORE - Warisan Budaya Indonesia yang diakui UNESCO